MANOKWARI, KABARKASUARI_Kunjungan Deputi Bidang Geoekonomi Dewan Pertahanan Nasional Republik Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Manokwari ke PT Conch West Papua Cement, Jumat (30/10/2026), menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk memaparkan kontribusi industri semen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah aspek menjadi pembahasan, mulai dari kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja lokal, pengembangan sumber daya manusia Orang Asli Papua (OAP), jaringan pemasaran, hingga program pemberdayaan masyarakat dan kontribusi perusahaan terhadap pendapatan daerah.
Deputi Bidang Geoekonomi Dewan Pertahanan Nasional RI, Dr. Yayat Ruyat, bersama Bupati Manokwari Hermus Indou dan Wakil Bupati H. Mugiyono, mendengarkan secara langsung pemaparan pihak perusahaan terkait perkembangan operasional industri serta dampaknya bagi perekonomian Papua Barat.
Salah satu hal yang dipaparkan adalah kapasitas produksi pabrik semen yang mencapai sekitar 3.200 ton per hari. Perusahaan yang telah beroperasi kurang lebih 10 tahun di Papua Barat ini juga menjadi salah satu sektor industri yang menyerap tenaga kerja di Kabupaten Manokwari.

Pihak perusahaan menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 400 tenaga kerja Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 109 orang merupakan Orang Asli Papua (OAP). Tidak hanya membuka kesempatan kerja, perusahaan juga menjalankan program pembinaan dan pengembangan kompetensi bagi tenaga kerja OAP. Bahkan, perusahaan memberikan kesempatan bagi pekerja lokal untuk menduduki jabatan manajerial melalui program pengembangan karier.Setiap tahun, terdapat tiga tenaga kerja OAP yang dipersiapkan untuk mengikuti pengembangan kapasitas dan jenjang karier menuju posisi manajer.
Dari sisi pemasaran, sekitar 80 persen produk semen dipasarkan di wilayah Papua dan Maluku, sedangkan 20 persen lainnya menjangkau pasar di luar wilayah tersebut, termasuk Timor Leste, Papua Nugini, dan Australia. Jaringan pemasaran perusahaan saat ini telah menjangkau sekitar 850 titik pemasaran dengan dukungan lebih dari 500 distributor.
Meski demikian, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan kegiatan operasional, terutama kenaikan harga bahan bakar dan material produksi yang sebagian masih didatangkan dari luar Papua. Kondisi geografis serta tingginya biaya distribusi turut memengaruhi biaya operasional perusahaan.
Selain kontribusi terhadap sektor industri dan ketenagakerjaan, perusahaan turut memaparkan pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Program tersebut di antaranya renovasi sekolah di Kampung Hink, pembelian hasil bumi masyarakat di sekitar kawasan pabrik, serta pemberian bantuan kepada gereja dan tempat ibadah.
Perusahaan juga menyampaikan komitmennya dalam memenuhi kewajiban perpajakan kepada daerah, meliputi pajak air permukaan, pajak kendaraan bermotor, pajak alat berat, serta kewajiban perpajakan lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui kunjungan dan pertemuan tersebut, diharapkan pemerintah pusat dan daerah memperoleh gambaran lebih menyeluruh mengenai perkembangan industri semen serta kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan masyarakat lokal, dan peningkatan pendapatan daerah di Papua Barat. (Rey/kk)