BANTEN, KABARKASUARI. COM_ Kemajuan kebudayaan daerah dapat diwujudkan melalui Festival Teluk Doreh. Hal ini disampaikan Bupati Manokwari, Hermus Indou, saat memaparkan urgensi penyelenggaraan Festival Teluk Doreh dalam Dialog Kebudayaan di Banten, 8 Februari 2026.
Menurut Bupati Hermus, Manokwari memiliki kekayaan budaya yang besar dan perlu terus digali serta diwariskan kepada generasi penerus. Upaya pelestarian budaya, katanya, tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus berkelanjutan.
“Kita sedang berada dalam tantangan globalisasi, di mana ancaman terhadap hilangnya kebudayaan daerah semakin nyata. Banyak generasi muda lebih mencintai budaya luar. Karena itu, budaya lokal harus terus dilestarikan,” ujar Hermus.
Ia menjelaskan, Teluk Doreh atau Doreri telah menjadi tema besar dalam penyelenggaraan festival sejak tahun 2024 dan 2025. Kawasan ini dinilai memiliki nilai historis, baik dari sisi religi maupun peradaban orang Papua.
“Teluk Doreh juga memiliki posisi strategis sebagai gerbang masuk Manokwari dan kawasan terdepan kota. Citra Manokwari sangat ditentukan oleh wajah Teluk Doreh,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Hermus menegaskan bahwa Festival Teluk Doreh tidak hanya berbicara tentang seni dan budaya, tetapi juga menyasar persoalan sosial dan lingkungan. Pemerintah Kabupaten Manokwari menargetkan festival ini menjadi gerakan bersama masyarakat untuk menjaga laut dan kawasan pesisir.
Saat ini, Teluk Doreh dihadapkan pada tiga persoalan utama, yakni meluasnya kawasan kumuh, masalah sampah laut, serta kemiskinan ekstrem di wilayah pesisir.
“Karena itu, kami berharap Festival Teluk Doreh terus dilaksanakan agar tiga persoalan tersebut bisa diselesaikan secara bertahap, sekaligus memberi dampak positif bagi pelestarian budaya di Manokwari,” tutup Bupati Hermus.