Operasi SAR Hari Keenam, Tim Gabungan Fokus Penyisiran 1,6 Kilometer Sungai

MANOKWARI,KABARKASUARI.COM_ Memasuki hari keenam operasi pencarian terhadap Yanto Idorway, presenter TVRI Papua Barat yang hilang setelah diduga terjatuh dan terseret arus di Sungai Memti, Kabupaten Pegunungan Arfak, Tim SAR Gabungan terus mengintensifkan upaya pencarian dengan menyisir aliran sungai hingga 1,6 kilometer dari lokasi kejadian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Manokwari, Jefri Sabaruddin, menjelaskan, pencarian hari keenam difokuskan pada lokasi-lokasi yang dinilai berpotensi menjadi tempat tersangkutnya korban. Medan yang berat menjadi tantangan utama dalam operasi tersebut.

“Hari ini kami kembali menyusuri dari lokasi kejadian hingga sekitar 1,6 kilometer ke arah hilir. Kami akan memaksimalkan pencarian di titik-titik yang kami anggap mencurigakan sebagai kemungkinan lokasi korban tersangkut,” ujarnya, Kamis pagi ( 23/7)

Menurutnya, derasnya arus sungai, bebatuan berukuran besar, serta tebing yang curam membuat proses pencarian membutuhkan ketelitian lebih dibanding operasi SAR di sungai pada umumnya.

“Kondisi sungainya sangat deras, batu-batunya besar dan medannya cukup berat. Itu menjadi kendala bagi seluruh tim di lapangan, baik Basarnas, Polres maupun unsur SAR lainnya,” katanya.

Hingga hari keenam, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban, baik berupa pakaian maupun barang lain yang dapat mengarah pada lokasi korban.
“Sampai hari ini kami belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Karena itu kami terus berupaya memastikan apakah korban terbawa arus lebih jauh atau berada di lokasi tertentu yang belum terjangkau,” jelasnya.

Dalam operasi pencarian, Di jelaskan bahwa Basarnas mengerahkan drone thermal yang mampu mendeteksi panas tubuh serta drone pengintai biasa. Teknologi tersebut digunakan untuk memantau area-area yang sulit dijangkau oleh tim darat.

“Kami menggunakan dua metode, yaitu drone biasa dan drone thermal. Jika pengamatan visual belum meyakinkan, kami gunakan thermal untuk mendeteksi suhu tubuh atau objek yang lebih mudah terlihat, terutama di kawasan hutan yang sulit diakses,” ungkapnya.

Sesuai standar operasional prosedur (SOP), operasi SAR direncanakan berlangsung selama tujuh hari. Namun, Basarnas membuka kemungkinan perpanjangan apabila hasil evaluasi menunjukkan masih adanya peluang menemukan korban.

Setiap sore kami melakukan evaluasi bersama seluruh unsur SAR dan pihak keluarga. Apabila masih ada indikasi atau peluang menemukan korban, maka akan menjadi pertimbangan untuk langkah operasi selanjutnya,” katanya.

Basarnas juga mengajak masyarakat Papua Barat untuk turut mendoakan agar proses pencarian berjalan lancar dan korban segera ditemukan.

Kami mohon doa dari seluruh masyarakat Papua Barat dan rekan-rekan media agar saudara kita dapat segera ditemukan,” tutupnya. ( kk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *